Langsung ke konten utama

Belajar dari sepasang lansia

Senin itu aku sedang bersepeda sembari memandang ke kanan dan kiri, yaa aku sedang mencari jompo maupun lansia yg bisa aku bantu. Walaupun tidak dalam hal materi. Aku tidak sedang bersepeda sendiri namun dg 3 temanku.
Dua dari mereka mengajak ku untuk mengunjungi Sepasang lansia. Mereka tinggal dalam sebuah gubuk kecil. Namun gubuk ini sangat kuat, buktinya walau terkena banjir Pacitan ia tetap berdiri kokoh layaknya kesabaran dua lansia ini. Sebenarnya mereka masih mempunyai anak, rumahnya pun berdekatan. Akan tetapi sepasang jompo ini tidak ingin memberatkan anaknya. Makan mereka sehari-hari adalah hasil kerja keras mereka sendiri. Mereka sudah berumur 70-an tahun. Walau usianya yg sudah sangat tua, mereka tetap semangat menjalani hidup mereka. Setiap harinya mereka menanam kacang di tanah lapang yg tidak bertuan, yaa mungkin menjadi tanah pemerintah. keramahan mereka membuat kami betah singgah disana. Bahkan kami disuguhi berbagai makanan. Aduhh mbah tidak usah repot-repot, serempak kami mengatakannya. Namun tetap saja mereka memaksa kami, hingga keluarlah si mbah putri dg 5 gelas teh hangat. Yaaa terpaksa kita minum juga akhirnya. Setelah kenyang kita harus pamitan karena misi kita masih belum terselesaikan untuk mencari jompo-jompo lagi. "tak bawain kacang ya, nanti di rebus di rumah" sontak si mbah putri mengambil plastik berukuran hitam besar. Tidak usah mbah, karena kami tidak tega akhirnya kami berbohong bahwa Di tempat kami ber empat tinggal tidak ada kompor gas untuk memasak. Yaa barulah di mbah percaya dan dimasukkannya kembali plastik ke tempatnya. "Jangan lupa kesini lagi ya", terenyuh mendengar perkataan itu. Bagaimana tidak kami bertemu baru dua kali tapi si mbah sudah menganggap kami seperti cucunya sendiri.

Komentar